Sabtu, 03 Januari 2015
IBU DAN 2 MATA UNTUKMU (cerpen)
0
20.31
Cerpen
Ibu Dan 2 Mata Untukmu
Seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan bertanya kepada dokter,
“Bisa saya melihat bayi saya ?”
“Bisa saya melihat bayi saya ?”
Ketika
gendongan seorang ibu berpindah dari tangan seorang dokter kepada ibu dan berlahan ibu melihat buah hatinya yang
munggil. Ibu menghela nafasnya sejenak ketika mengetahui buah hatinya memiliki
kekurangan pada pengelihatannya.
JJJ
Lambat
laun pengelihatan bayi yang kini telah tumbuh menjadi
seorang anak itu mulai bekerja dengan sempurna. Dia perlahan mampu melihat indahnya
dunia namun dia tumbuh menjadi anak yang sedikit berbeda dengan kawan –
kawannya. Suatu ketika anak perempuan
itu bergegas pulang dengan wajah yang masam dan menangis dipangkuan
ibunya. Sang ibu tahu bahwa anaknya mengalami berbagai peristiwa dan tragedi.
Anak
kecil itu berkata kepada mamanya dengan terisak – isak
“Ma... Ada seseorang yang melihatku
dan ia merasa ketakutan, apakah aku sosok yang aneh bahkan atau aku sangat
menakutkan?”
JJJ
Lambat
laun anak kecil itu berubah menjadi gadis yang cantik dan pandai. Ia juga
menggembangkan bakatnya menjadi fotografer dan penulis. Suatu ketika
disekolahnya diadakan sebuah lomba pemilihan untuk lomba Abang dan None
diDaerahnya, dan gadis ini ingin mengikutinya. Karna ia juga ingin mengetest
sampai dimana wawasan pengetahuannya.
Ibunya
mengingatkan,
“Bukankah tanpa kamu mengikuti ajang
itu kau bisa mengukur kemampuanmu dari kau mendapat peringkat setiap tahunnya?”
Ibu
hanya tidak ingin anaknya menjadi kecewa dan sedih nantinya larna hanya akan
jadi bahan tertawaan walaupun ibu sangat ingin melihat anaknya menjadi seorang
yang membanggakan. Namun ibu harus
mengurungkan keinginannya dahulu karena kesedihan anaknya akan membuat dirinya
terluka. Suatu ketika Ayahnya bertemu dengan seorang dokter yang bisa
mencagkokkan mata untuk putrinya.
Dokter tersebut
berkata,
“Saya bisa mencangkokkan mata anak
bapak asalkan ada pendonor.”
Dengan keinginan yang sangat teguh untuk melihat putrinya sama dengan yang
lainnya, ia mulai mencari seorang pendonor untuk putri tunggalnya. Beberapa
bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil putrinya.
Sang ayah berkata,
“Nak, ada seseorang
yang tak dikenal telah bersedia mendonorkan matanya padamu. Ayah akan segera
membawamu kerummah sakit untuk pencangkokkan mata. Namun, ini sangatlah
rahasia.”
Operasi berjalan dengan sukses. Seorang gadis baru pun lahirlah. Bakat fotografernya yang
hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Dengan kejeniusan yang dimiliki ia
menjadi sangat dikenal disekolahnya, dan beberapa kali mendapat piagam
penghargaan atas karya – karyanya.
JJJ
Beberapa bulan kemudian gadis ini bertanya kepada ayahnya, dimana
keberadaan ibunya karena ibunya hanya menitip pesan pada gadis ini hanya pergi
menjaga neneknya yang sakit didesa. Dan dia juga bertanya kepada ayahnya siapa
yang mendonorkan mata untuknya karena ia tidak bisa tenang menggunakan mata
seseorang dengan sesuka hati tanpa mengucap terimakasih.
“Ayah dimana ibu? Apakah
nenek masih belum sembuh”
“Sebentar lagi ibu akan
pulang.”
“Ayah sudah berkata ini
berulang – ulang padaku, dimana ibu ayah?”
Lagi - lagi ayah membalas
pertanyaanku dengan senyuman. Gadis munggil ini bertanya kembali kepada
ayahnya,
“Yah, aku harus mengetahui
siapa yang telah bersedia mengorbankan mata ini untukku. Orang itu telah berbuat
sesuatu yang besar namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya.”
Ayah menjawabnya,
” Ayah yakin kamu
takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan mata ini.”
Setelah terdiam sesaat
ayahnya melanjutkan,
“Sesuai dengan perjanjian,
ini mungkin adalah saat yang tepat untuk kamu mengetahuinya.”
“Apa yang sebenarnya yang
terjadi yah?”
“Sebenarnya ibumu tidak
menemani nenek didesa. Memang awalnya ibu pergi kedesa untuk mencarikan pendonor
untukmu. Namun, bus yang ditumpangi ibu, sopir busnya mengantuk dan menabrak
pohon besar. Dan ibu mengalami kritis, dan disaat masa kritisnya ibu sempat
sadar dan mengatakan pahwa ibu ingin mendonorkan matanya untukmu, dan
menuliskan surat ini untukmu.”
Dear gadis
munggilku yang cantik,
Ibu sangat senang nak saat kau
tumbuh menjadi anak yang pandai, dan kejeniusanmu dalam mengambil gambar. Ibu sangat ingin kau menjadi seorang
fotografer yang genius, fotografer yang hebat. Kamu anak yang kuat nak, kamu
mampu bertahan dari hinaan seseorang padamu selama ini. Mungkin ini saatnya ibu
harus berkorban untukmu dan ini adalah jalan Allah untuk menolong putri ibu.
Jangan bersedih nak, ibu bahagia jika melihat tawamu. Jangan bersedih, jika ada
seseorang yang menghinamu kau tak perlu menghinanya. Kamu cukup memantaskan
diri bagaimana kamu bisa mencapai keberhasilan yang dikatakan orang lain
sebagai tidak mungkin. Ibu bangga padamu nak...
Gadis munggil ini hanya mampu tertunduk dan menahan tangisnya.
“Aku akan membanggakanmu
Ibu...”
(Fatin
Furoida/A6)
10 NOVEMBER, BUKAN CERITA USANG
0
20.14
10 November, Bukan Cerita
Usang
"Dan jika kita renungkan sejenak,
Para Pahlawan kita sangat sederhana. Mereka tidak berharap peringatan dengan
perayaan yang mewah, mereka hanya berharap do’a-do’a kita tetap selalu tertuju
pada mereka di surga dan do’a-do’a agar kita segenap pemilik tanah air dapat
bersatu meraih cita-cita bangsa." -seseorang-
|
10 November, dibalik tanggal itu bagi
sekawanan orang yang mengerti arti pahit dan manisnya pengorbanan untuk
kebahagiaan semua orang, merupakan sesuatu yang penting bahkan
teramat-penting-sekali agar seutas cerita dibalik tanggal itu tidak menjadi
sekedar cerita usang termakan zaman. Ya, tidak dipungkiri lagi. Perkembangan
zaman yang makin merombak dan merubah pola pikir masyarakat Indonesia
sendiri-lah, yang membuat cahaya pada tanggal “10 November” di kalender mereka
makin meredup. “10 November? Iya, Hari Pahlawan.”, hanya dengan kalimat itu,
mereka menganggap peringatan Hari Pahlawan sudah mereka rayakan. Hanya dengan
itu mereka menganggap apresiasi tertinggi terhadap Pahlawan bangsa sudah mereka
lakukan.
Tentu kita tidak asing dengan pepatah yang digumamkan oleh
salah pahlawan kita yang benar-benar menjadi tokoh besar dalam upaya
kemerdekaan Indonesia yakni Ir. Soekarno, “bangsa yang besar adalah bangsa
yang menghargai pahlawannya”, berarti apakah ini alasannya mengapa kita
bangsa Indonesia tidak lekas menjadi bangsa yang besar dan maju? Apa karena
masih banyak dari kita yang tidak menghargai Pahlawan Bangsa? Apa masih banyak
dari kita yang belum tahu diri bahwa yang mereka injak ini hasil keringat dan
cucuran darah siapa?. Jawaban dari pertanyaan itu semua adalah mungkin. Mengapa
demikian? Karena bisa jadi, itu adalah kunci sukses bagaimana suatu bangsa agar
menjadi besar, kuat, dan sejahtera. Bisa disebut juga kalimat itu merupakan amanah
dari para pahlawan kita, agar kita tahu diri dan menghargainya dengan
penghargaan tertinggi berupa melanjutkan perjuangan mereka untuk membangun karakter
bangsa supaya dapat sebanding sejajar dengan bangsa-bangsa besar lainnya.
Membangun karakter bangsa dengan presentase sekecil apapun
semangat kepahlawanan yang kita punya. Walau sedikit, percayalah jika membahu melakukannya
bersama-sama akan menjadi bukit. Menjadikan momen penting “10 November” ini
bukan lagi cerita usang yang hanya selalu dibahas ribuan kali di sekolah, tanpa
mengerti sedikit-pun makna tersirat didalamnya dan tidak melakukan apa-apa.
Sekarang saatnya, khususnya kita generasi muda bangsa harus melakukan sesuatu
untuk bangsa kita. Menjamin masa depan yang baik dan meraih cita-cita bangsa.
Mengedapankan nilai-nilai kesetiakawanan sosial yang tinggi serta kita rapatkan
barisan membangun negeri untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat sehingga bangsa
Indonesia dapat menjadi bangsa bermartabat, serta keutuhan Negara Kesatuan
Republik Indonesia dapat terus terjaga. (N. Hariani/S 4)
Selasa, 07 Januari 2014
Surat Dari Annisa
0
00.02
Cerpen
‘Jika aku
memang, tercipta untukmu… ku’kan memilikimu’
Aku menatapnya
sendu. Dia nampak
kelelahan setelah bermain
futsal hampir sejam.
Aku berniat memberinya
minuman namun niat
itu harus kuurungkan
saat mengingat statusku
yang hanya teman
masa lalunya.
Surat
Dari Annisa
Akupun beranjak
dari bangku kantin
dan beranjak menuju
kelasku yang berada
disamping kelasnya. Dengan
buku Matematika yang
sedaritadi kubawa, aku
melangkah menjauh dari
kantin yang berada
didepan lapangan futsal
SMA Unggulan Pertiwi.
Aku menatap
ke arah Andra,
teman masa laluku
yang sangat kukagumi.
Entah mengapa aku
bisa jatuh hati pada
orang yang samasekali
tak pernah mempedulikanku. Padahal
ada David, ketua
basket yang banyak
disegani oleh kaum
hawa SMA Unggulan Pertiwi
yang amat perhatian
padaku.
*
Senin, 06 Januari 2014
Autumn
0
23.59
Cerpen
“Dan
disitulah aku mulai mengenal dan mencintaimu. Musim
gugur di hutan meple yang rindang
dan tenang”
Autumn
Aku memejamkan kedua mataku. Merasakan
ketenangan yang kurasakan pada musim gugurku
yang ke 29. Aku sangat menyukai musim
gugur. Dari 4 musim yang ada di
Kanada, hanya Musim gugurlah yang paling
ku suka.
Aroma khas pohon meple yang tumbuh di
pekarangan rumahku di Québec, Kanada menyebar
disetiap sudut rumah kecilku ini. Aku
menikmati aroma kesukaanku ini. Aroma
pohon meple yang biasanya menjadi
parfumku setiap hari. Aku menikmatinya hingga
larut kedalam masa lalu. Dimana
aku pertama kali bertemu dengan
seseorang yang membuat hatiku tak karuan.
Kak Fefen
0
23.57
Cerpen
Aku menghela napas untuk kesekian
kalinya. Gelisah. Berkali-kali kulongokkan kepalaku untuk memastikan satu hal;
dia datang. Setiap detik tak henti-hentinya kulirik jam hitam dipergelangan
tanganku. Kenapa lama sekali? Apa dia lupa?
Aku mulai putus asa. Mungkin dia
memang lupa dan tak akan pernah datang. Aku berniat melangkah pergi sampai
akhirnya aku mengurungkan niatku begitu melihatnya di ambang pintu berjalan
tergopoh-gopoh ke arahku. Tangannya menggenggam buku fisika yang mulai kucel.
Aku tersenyum lalu duduk kembali. Dalam hati aku bersorak senang. Dia
datang! Yeay!
“Udah nunggu lama? Maaf ya, tadi aku
sholat ashar dulu,” ujarnya lembut. Suaranya begitu merdu di indera
pendengaranku. Dia tersenyum sekilas. Menampakkan dekik lesung pipinya.
Membuatku leleh seketika.
“I..iya, nggak apa-apa, kok,”
jawabku sedikit terbata.
“Yauda, mau nanya apa?” tanyanya to
the point. Dia meletakkan buku fisika kucelnya diatas meja—disamping
buku-bukuku yang kubuka lebar.
“Yang ini, kak!” sahutku semangat
sambil menunjukkan soal latihan yang tidak kubisa. Aku segera mempersiapkan
buku kosong dan pensilku.
“Oh, yang ini.” Dia segera meraih
pensil dan bukuku lalu mulai menyoret-coretnya dengan beberapa macam rumus. Aku
mendengarkan sambil sesekali curi-curi pandang padanya. Dia terlihat makin
tampan kalau sedang serius. Hihihi.
“Sudah paham?” tanyanya tiba-tiba.
Aku yang tidak siap dengan
pertanyaan itu langsung gelagapan. “Ah..eh..belum. Hehehe,” Aku terkekeh pelan.
Duh, malunya aku.
“Yasudah, sini aku jelasin lagi.”
Dia menggeser duduknya sedikit mendekat ke arahku. Jantungku tiba-tiba berdetak
cepat. Aduh, kak. Jangan dekat-dekat nanti aku malah nggak bisa konsen.
“Sudah paham?” tanyanya lagi.
Aku beringsut. Mengangguk sambil
menundukkan kepalaku. Menyembunyikan rona merah diwajahku. Aku malu kalau
sampai dia melihatnya. Nanti aku ditanyai macam-macam lagi.
“Yasudah, kak. Aku permisi dulu.
Makasih,” Aku terburu-buru membereskan barang milikku dan bergegas pergi
sebelum ia menyadari ada yang aneh denganku.
'''
Namanya Fefen. Ketua OSIS paling
kece dan punya kharisma berlebih. Dia misterius, senyumnya maut, jago fisika,
taat ibadah, dan segudang kelebihan lain yang bikin aku tak bisa berpaling
darinya.
Aku mulai berani mendekatinya
semenjak acara wawancaraku dengannya demi majalah sekolah. Dari situ sedikit
demi sedikit aku lebih mengenalnya. Dia sosok yang sangat ramah dan gemar bercanda.
Tapi itu dulu. Sekarang dia lebih jaim di depan siswa-siswi sekolah.
Aku sempat mengiriminya pesan
singkat yang isinya basa-basi. Sekedar penasaran apa dia akan meresponku atau
tidak. Dan ternyata dia memang merespon, tapi balasan yang kuterima sangat-sangat
lama. Aku bahkan sampai jamuran menunggunya.
Ingin sekali aku mengatakan “Aku
suka kamu, Kak” padanya. Tapi setelah kupikir lagi, apa aku sudah gila?
Menyatakan cinta pada Ketua OSIS? Ide terburuk yang pernah aku pikirkan. Aku
tidak mau menjadikan hubungan yang baik dan lumayan dekat ini—menurutku—menjadi
renggang dengan pernyataan bodoh itu. Ah, seandainya semuanya tidak sesulit
ini.
Aku menghela napas frustasi. Perasaan
ini membuatku merasa sulit. Dipendam salah, diutarakan tambah salah. Aku
bertopang dagu sambil menatap binderku yang penuh dengan goresan namanya
dalam tinta emas.
“Fefen-Senpai, Watashi wa Anata o
Aishite,”
“Bagiku, cukup dengan melihat
senyummu. Aku bahagia, F”
Tanganku mulai mengaduk-aduk tempat
pensil—mencari bolpoin—untuk kembali menuliskan apa yang aku rasakan dan
pikirkan tentang Kak Fefen. Tapi kuurungkan begitu aku mendengar suara
keributan diluar. Dengan rasa penasaran khas wartawan majalah aku melangkahkan
kaki mendekati kerumunan itu. Aku berjinjit mencoba memperoleh jarak pandang
yang bagus. Ada apa, sih?
“Eh, ternyata Ketua OSIS kita punya adik
kelas cewek yang disukai loh! Mau tau, nggak?” Telingaku tiba-tiba menangkap
suara Kak Adi—teman sekelas Kak Fefen—dari speaker.
Kurasakan jantungku mulai memompa
cepat. Siapa? Siapa? Siapa? Rasanya aku ingin segera mendengarkan
kelanjutan ucapan Kak Adi tapi aku juga tak ingin mendengarkannya. Ah, aku jadi
bingung!
“Mauuuuu!!!” Terdengar koor panjang
dan serentak dari seluruh siswa-siswi yang berkumpul di depan kelas, memenuhi
koridor.
“Yakin?” tanya Kak Adi
memanas-manasi.
“Yakiinn!!” sahut semuanya.
“Apa sih lo, Di! Udah, ah! Malu
gue!” samar-samar terdengar suara Kak Fefen yang sedang mengomeli Kak Adi.
“Haha, nggak apa-apa lah, Fen. Kan
asyik juga tuh kalau dia dengerin. Sekalian tembak aja,” Kak Adi menanggapinya
dengan santai diiringi tawa kecilnya. Aku yang mendengarnya jadi dag dig dug
sendiri. Apa cewek itu aku? Ah, mikir apaan, sih? Jelas nggak mungkin
banget!
“Setuju nggak kalau Ketua OSIS kita
ungkapin perasaannya ke cewek itu?”
“Setujuuu!!”
Aku bisa merasakan dadaku
bergemuruh. Aku menahan napas. Siapa? Siapa cewek beruntung itu?
“Namanya....”
BLARR!!! Sebuah kilat menyambar dan
hanya terdengar bunyi nging panjang dari mikrofon yang membuat telinga
pengang. Tiba-tiba hujan deras datang dan semuanya lenyap. Berhamburan menuju
kelas mereka masing-masing.
Aku mendengus. Acaranya gagal, nih?
Tsk! Udah dibelain deg-degan juga. Ah! Menyebalkan! Jadi, cewek beruntung itu
masih tetap rahasia. Yah, rahasia. Rahasia antara Kak Fefen, Kak Adi, dan
Tuhan.
END
(Arni)
Langganan:
Postingan (Atom)









