Pages

Senin, 06 Januari 2014

Kak Fefen

            Aku menghela napas untuk kesekian kalinya. Gelisah. Berkali-kali kulongokkan kepalaku untuk memastikan satu hal; dia datang. Setiap detik tak henti-hentinya kulirik jam hitam dipergelangan tanganku. Kenapa lama sekali? Apa dia lupa?
            Aku mulai putus asa. Mungkin dia memang lupa dan tak akan pernah datang. Aku berniat melangkah pergi sampai akhirnya aku mengurungkan niatku begitu melihatnya di ambang pintu berjalan tergopoh-gopoh ke arahku. Tangannya menggenggam buku fisika yang mulai kucel. Aku tersenyum lalu duduk kembali. Dalam hati aku bersorak senang. Dia datang! Yeay!
            “Udah nunggu lama? Maaf ya, tadi aku sholat ashar dulu,” ujarnya lembut. Suaranya begitu merdu di indera pendengaranku. Dia tersenyum sekilas. Menampakkan dekik lesung pipinya. Membuatku leleh seketika.
            “I..iya, nggak apa-apa, kok,” jawabku sedikit terbata.
            “Yauda, mau nanya apa?” tanyanya to the point. Dia meletakkan buku fisika kucelnya diatas meja—disamping buku-bukuku yang kubuka lebar.
            “Yang ini, kak!” sahutku semangat sambil menunjukkan soal latihan yang tidak kubisa. Aku segera mempersiapkan buku kosong dan pensilku.
            “Oh, yang ini.” Dia segera meraih pensil dan bukuku lalu mulai menyoret-coretnya dengan beberapa macam rumus. Aku mendengarkan sambil sesekali curi-curi pandang padanya. Dia terlihat makin tampan kalau sedang serius. Hihihi.
            “Sudah paham?” tanyanya tiba-tiba.
            Aku yang tidak siap dengan pertanyaan itu langsung gelagapan. “Ah..eh..belum. Hehehe,” Aku terkekeh pelan. Duh, malunya aku.
            “Yasudah, sini aku jelasin lagi.” Dia menggeser duduknya sedikit mendekat ke arahku. Jantungku tiba-tiba berdetak cepat. Aduh, kak. Jangan dekat-dekat nanti aku malah nggak bisa konsen.
            “Sudah paham?” tanyanya lagi.
            Aku beringsut. Mengangguk sambil menundukkan kepalaku. Menyembunyikan rona merah diwajahku. Aku malu kalau sampai dia melihatnya. Nanti aku ditanyai macam-macam lagi.
            “Yasudah, kak. Aku permisi dulu. Makasih,” Aku terburu-buru membereskan barang milikku dan bergegas pergi sebelum ia menyadari ada yang aneh denganku.

'''

            Namanya Fefen. Ketua OSIS paling kece dan punya kharisma berlebih. Dia misterius, senyumnya maut, jago fisika, taat ibadah, dan segudang kelebihan lain yang bikin aku tak bisa berpaling darinya.
            Aku mulai berani mendekatinya semenjak acara wawancaraku dengannya demi majalah sekolah. Dari situ sedikit demi sedikit aku lebih mengenalnya. Dia sosok yang sangat ramah dan gemar bercanda. Tapi itu dulu. Sekarang dia lebih jaim di depan siswa-siswi sekolah.
            Aku sempat mengiriminya pesan singkat yang isinya basa-basi. Sekedar penasaran apa dia akan meresponku atau tidak. Dan ternyata dia memang merespon, tapi balasan yang kuterima sangat-sangat lama. Aku bahkan sampai jamuran menunggunya.
            Ingin sekali aku mengatakan “Aku suka kamu, Kak” padanya. Tapi setelah kupikir lagi, apa aku sudah gila? Menyatakan cinta pada Ketua OSIS? Ide terburuk yang pernah aku pikirkan. Aku tidak mau menjadikan hubungan yang baik dan lumayan dekat ini—menurutku—menjadi renggang dengan pernyataan bodoh itu. Ah, seandainya semuanya tidak sesulit ini.
           Aku menghela napas frustasi. Perasaan ini membuatku merasa sulit. Dipendam salah, diutarakan tambah salah. Aku bertopang dagu sambil menatap binderku yang penuh dengan goresan namanya dalam tinta emas.
            “Fefen-Senpai, Watashi wa Anata o Aishite,
            “Bagiku, cukup dengan melihat senyummu. Aku bahagia, F
            Tanganku mulai mengaduk-aduk tempat pensil—mencari bolpoin—untuk kembali menuliskan apa yang aku rasakan dan pikirkan tentang Kak Fefen. Tapi kuurungkan begitu aku mendengar suara keributan diluar. Dengan rasa penasaran khas wartawan majalah aku melangkahkan kaki mendekati kerumunan itu. Aku berjinjit mencoba memperoleh jarak pandang yang bagus. Ada apa, sih?
            “Eh, ternyata Ketua OSIS kita punya adik kelas cewek yang disukai loh! Mau tau, nggak?” Telingaku tiba-tiba menangkap suara Kak Adi—teman sekelas Kak Fefen—dari speaker.
            Kurasakan jantungku mulai memompa cepat. Siapa? Siapa? Siapa? Rasanya aku ingin segera mendengarkan kelanjutan ucapan Kak Adi tapi aku juga tak ingin mendengarkannya. Ah, aku jadi bingung!
            “Mauuuuu!!!” Terdengar koor panjang dan serentak dari seluruh siswa-siswi yang berkumpul di depan kelas, memenuhi koridor.
            “Yakin?” tanya Kak Adi memanas-manasi.
            “Yakiinn!!” sahut semuanya.
            “Apa sih lo, Di! Udah, ah! Malu gue!” samar-samar terdengar suara Kak Fefen yang sedang mengomeli Kak Adi.
            “Haha, nggak apa-apa lah, Fen. Kan asyik juga tuh kalau dia dengerin. Sekalian tembak aja,” Kak Adi menanggapinya dengan santai diiringi tawa kecilnya. Aku yang mendengarnya jadi dag dig dug sendiri. Apa cewek itu aku? Ah, mikir apaan, sih? Jelas nggak mungkin banget!
            “Setuju nggak kalau Ketua OSIS kita ungkapin perasaannya ke cewek itu?”
            “Setujuuu!!”
            Aku bisa merasakan dadaku bergemuruh. Aku menahan napas. Siapa? Siapa cewek beruntung itu?
            “Namanya....”
            BLARR!!! Sebuah kilat menyambar dan hanya terdengar bunyi nging panjang dari mikrofon yang membuat telinga pengang. Tiba-tiba hujan deras datang dan semuanya lenyap. Berhamburan menuju kelas mereka masing-masing.
            Aku mendengus. Acaranya gagal, nih? Tsk! Udah dibelain deg-degan juga. Ah! Menyebalkan! Jadi, cewek beruntung itu masih tetap rahasia. Yah, rahasia. Rahasia antara Kak Fefen, Kak Adi, dan Tuhan.


END

(Arni)

0 komentar:

Posting Komentar