Pages

Sabtu, 03 Januari 2015

IBU DAN 2 MATA UNTUKMU (cerpen)

Ibu Dan 2 Mata Untukmu
Seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan bertanya kepada dokter,
            “Bisa saya melihat bayi saya ?”
Ketika gendongan seorang ibu berpindah dari tangan seorang dokter kepada ibu  dan berlahan ibu melihat buah hatinya yang munggil. Ibu menghela nafasnya sejenak ketika mengetahui buah hatinya memiliki kekurangan pada pengelihatannya.
JJJ
Lambat laun pengelihatan bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu mulai bekerja dengan sempurna. Dia perlahan mampu melihat indahnya dunia namun dia tumbuh menjadi anak yang sedikit berbeda dengan kawan – kawannya. Suatu ketika anak perempuan  itu bergegas pulang dengan wajah yang masam dan menangis dipangkuan ibunya. Sang ibu tahu bahwa anaknya mengalami berbagai peristiwa dan tragedi.
Anak kecil itu berkata kepada mamanya dengan terisak – isak
            “Ma... Ada seseorang yang melihatku dan ia merasa ketakutan, apakah aku sosok yang aneh bahkan atau aku sangat menakutkan?”
JJJ
Lambat laun anak kecil itu berubah menjadi gadis yang cantik dan pandai. Ia juga menggembangkan bakatnya menjadi fotografer dan penulis. Suatu ketika disekolahnya diadakan sebuah lomba pemilihan untuk lomba Abang dan None diDaerahnya, dan gadis ini ingin mengikutinya. Karna ia juga ingin mengetest sampai dimana wawasan pengetahuannya.
Ibunya mengingatkan,
            “Bukankah tanpa kamu mengikuti ajang itu kau bisa mengukur kemampuanmu dari kau mendapat peringkat setiap tahunnya?”
Ibu hanya tidak ingin anaknya menjadi kecewa dan sedih nantinya larna hanya akan jadi bahan tertawaan walaupun ibu sangat ingin melihat anaknya menjadi seorang yang membanggakan. Namun ibu harus mengurungkan keinginannya dahulu karena kesedihan anaknya akan membuat dirinya terluka. Suatu ketika Ayahnya bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencagkokkan mata untuk putrinya.
Dokter tersebut berkata,
            “Saya bisa mencangkokkan mata anak bapak asalkan ada pendonor.”
Dengan keinginan yang sangat teguh untuk melihat putrinya sama dengan yang lainnya, ia mulai mencari seorang pendonor untuk putri tunggalnya. Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil putrinya.
Sang ayah berkata,
“Nak, ada seseorang yang tak dikenal telah bersedia mendonorkan matanya padamu. Ayah akan segera membawamu kerummah sakit untuk pencangkokkan mata. Namun, ini sangatlah rahasia.”
Operasi berjalan dengan sukses. Seorang gadis  baru pun lahirlah. Bakat fotografernya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Dengan kejeniusan yang dimiliki ia menjadi sangat dikenal disekolahnya, dan beberapa kali mendapat piagam penghargaan atas karya – karyanya.
JJJ
Beberapa bulan kemudian gadis ini bertanya kepada ayahnya, dimana keberadaan ibunya karena ibunya hanya menitip pesan pada gadis ini hanya pergi menjaga neneknya yang sakit didesa. Dan dia juga bertanya kepada ayahnya siapa yang mendonorkan mata untuknya karena ia tidak bisa tenang menggunakan mata seseorang dengan sesuka hati tanpa mengucap terimakasih.
            “Ayah dimana ibu? Apakah nenek masih belum sembuh”
            “Sebentar lagi ibu akan pulang.”
            “Ayah sudah berkata ini berulang – ulang padaku, dimana ibu ayah?”
Lagi -  lagi ayah membalas pertanyaanku dengan senyuman. Gadis munggil ini bertanya kembali kepada ayahnya,
            “Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan mata ini untukku. Orang itu telah berbuat sesuatu yang besar namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya.”
Ayah menjawabnya,
” Ayah yakin kamu takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan mata ini.”
Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan,
            “Sesuai dengan perjanjian, ini mungkin adalah saat yang tepat untuk kamu mengetahuinya.”
            “Apa yang sebenarnya yang terjadi yah?”
            “Sebenarnya ibumu tidak menemani nenek didesa. Memang awalnya ibu pergi kedesa untuk mencarikan pendonor untukmu. Namun, bus yang ditumpangi ibu, sopir busnya mengantuk dan menabrak pohon besar. Dan ibu mengalami kritis, dan disaat masa kritisnya ibu sempat sadar dan mengatakan pahwa ibu ingin mendonorkan matanya untukmu, dan menuliskan surat ini untukmu.”
                        Dear gadis munggilku yang cantik,
                        Ibu sangat senang nak saat kau tumbuh menjadi anak yang pandai, dan kejeniusanmu dalam mengambil  gambar. Ibu sangat ingin kau menjadi seorang fotografer yang genius, fotografer yang hebat. Kamu anak yang kuat nak, kamu mampu bertahan dari hinaan seseorang padamu selama ini. Mungkin ini saatnya ibu harus berkorban untukmu dan ini adalah jalan Allah untuk menolong putri ibu. Jangan bersedih nak, ibu bahagia jika melihat tawamu. Jangan bersedih, jika ada seseorang yang menghinamu kau tak perlu menghinanya. Kamu cukup memantaskan diri bagaimana kamu bisa mencapai keberhasilan yang dikatakan orang lain sebagai tidak mungkin. Ibu bangga padamu nak...
Gadis munggil ini hanya mampu tertunduk dan menahan tangisnya.
            “Aku akan membanggakanmu Ibu...”

(Fatin Furoida/A6)



0 komentar:

Posting Komentar